China Jadi Penentu Ekspor Minyak Iran di Tengah Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan energi global Ancaman dari Iran untuk memengaruhi lalu lintas kapal di Selat Hormuz membuat aktivitas pelayaran di jalur vital tersebut hampir terhenti.
Meski demikian, sejumlah pakar menilai kecil kemungkinan Iran akan benar-benar memblokade jalur pelayaran strategis itu dalam jangka panjang sebagai respons atas serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Analis gas dan ekonomi, Dalga Khatinoglu, menyebutkan bahwa perekonomian Iran sendiri sangat bergantung pada jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
“Sekitar 70 persen perdagangan nonmigas Iran melewati pelabuhan yang bergantung pada akses melalui Selat Hormuz,” ujar Khatinoglu seperti dikutip dari Iran International.
Karena itu, memblokade selat tersebut dalam waktu lama justru dinilai akan merugikan Iran sendiri. Selain ekspor, negara tersebut juga sangat bergantung pada impor berbagai kebutuhan pokok melalui jalur laut tersebut.
Pakar energi Sara Vakhshouri dari SVB Energy International menilai langkah penutupan Selat Hormuz tidak rasional bagi Iran.
Menurutnya, Iran membutuhkan akses impor untuk barang-barang penting seperti pangan. Di sisi lain, sebagian besar ekspor energi Iran juga dikirim ke negara-negara Asia seperti China dan India.
“Tidak rasional bagi Iran untuk menutup Selat Hormuz karena mereka bergantung pada impor barang-barang penting seperti pangan. Selain itu, sebagian besar ekspor mereka menuju Cina dan India sehingga langkah tersebut justru akan merugikan negara itu sendiri,” kata Vakhshouri kepada Bloomberg TV.
Sementara itu, ketegangan militer yang meningkat setelah serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak dan gas dilaporkan meningkat tajam karena kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Para analis memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak hingga 100 dolar AS per barel—sekitar Rp1,6 juta—atau bahkan lebih tinggi apabila pelayaran melalui Selat Hormuz dianggap terlalu berbahaya bagi kapal-kapal tanker internasional.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap harinya, sehingga setiap ancaman terhadap stabilitas kawasan langsung berdampak pada pasar energi internasional.

Komentar
Posting Komentar